<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kopdang &#187; opini</title>
	<atom:link href="http://kopdang.com/tag/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kopdang.com</link>
	<description>blog aggregator mas kopdang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Jul 2010 21:38:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Industri Kreatif Indonesia</title>
		<link>http://kopdang.com/2009/11/industri-kreatif-indonesia/</link>
		<comments>http://kopdang.com/2009/11/industri-kreatif-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 07:50:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mAs kopD4nG</dc:creator>
				<category><![CDATA[industri kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kopdang.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[INDUSTRI KREATIF NUSANTARA Saya pikir masalah indutri kreatif sebagai perwujudan ekonomi berbasis pengetahuan sudah lama dilakukan oleh bangsa ini. Memang betul, untuk menuju nilai ekonomis sebesar-besarnya, kita belum terlalu mengarah ke sana, walaupun sudah banyak dilakukan. Salah satu contoh nyata &#8230; <a href="http://kopdang.com/2009/11/industri-kreatif-indonesia/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>INDUSTRI KREATIF NUSANTARA</strong></p>
<p>Saya pikir masalah indutri kreatif sebagai perwujudan ekonomi berbasis pengetahuan sudah lama dilakukan oleh bangsa ini.</p>
<p>Memang betul, untuk menuju nilai ekonomis sebesar-besarnya, kita belum terlalu mengarah ke sana, walaupun sudah banyak dilakukan.</p>
<p>Salah satu contoh nyata dan terlupa dalam <a href="http://kopidangdut.wordpress.com/2007/09/26/320/">paguyuban kreativitas</a> [dan bukannya patembayan kreatifitas] adalah sebagai berikut:<span id="more-13"></span></p>
<p>Kelompok sandiwara, ludruk, teater kampung sudah mengurat akar sedari dulu. Mungkin, semenjak sungai Bengawan Solo belum mengalir sampai jauh.</p>
<p>Untuk hitung-hitungan ekonomis, aktivitas paguyuban ini memang tidak dapat dikatakan baik, namun sebagai sebuah gaya hidup sekaligus kultur budaya masyarakat, posisi sandiwara tradisional, ludruk, teater kampung mutlak adanya.</p>
<p><strong>KELOMPOK BERBASIS PENGETAHUAN</strong></p>
<p>Apakah kelompok kesenian tersebut berdasar pada pengetahuan? Ya. Memangnya tampil di panggung mengenakan <em>kemben</em> lurik-lurik memainkan lakon tertentu dengan disaksikan oleh puluhan penonton tak memerlukan ilmu? Wawasan? Gairah berkesenian? Dan tentunya pengenalan dan memperkenalkan budaya pada masyarakat luas.</p>
<p>Bukannya yang mau kita bahas itu justru industri kreatif yang berbasis pengetahuan demi kepentingan ekonomis, Mas…?</p>
<p>Betul..! Tapi apakah itu cocok dengan jiwa ruhaniah warga nusantara? Lha wong kita itu kan pinginnya rame’-rame’..? Kalau industri kreatif maka relatif daya serap yang dapat ditampung adalah sedikit. Seupil.</p>
<p>Lho..? Kan kita memang arahnya ke sana. Bukan lagi padat karya, seperti jaman Orba, tetapi padat modal..!?</p>
<p>Oke..oke..kalau ente maksa, ane kasih liat padat modal, bersumber dari ilmu pengetahuan, namun justru tak rasional, dan itulah yang seharusnya diketahui masyarakat global dengan Indonesia.</p>
<p>Apaan tuh Mas..? Industri apa..? Film…? Blog..?</p>
<p>Bukan..!</p>
<p>Musik? Oh iya, pantas aja kita sekarang banyak yang pingin jadi anak Band..Cepet kaya plus beken, kan..?</p>
<p>Ah, itu kalau tidak disokong perusahaan rokok, saya gak yakin bisa seperti sekarang..malah jangan-jangan sekarang justru sedang <em>bubble</em>.</p>
<p>Lantas..? Apa donk…?</p>
<p>Dunia Paranormal.</p>
<p>HAH…! Serius..</p>
<p>Ya. Serius. Sebuah industri yang berangkat dari kondisi tradisional. Akibat pengaruh kebudayaan timur yang melakukan <em>quantum leap</em> dari tradisi lisan langsung menuju tradisi <em>gadget technology</em>, tanpa melalui fase yang benar: fase tulis-menulis.</p>
<p>Modal ngoceh, pengetahuan mengenai kondisi psikologis klien sekaligus memanfaatkan “kebutuhan ruhaniah” dan sugesti baik, maka aliran dana yang besar dapat berpindah tangan dari Pejabat Publik yang dikejar-kejar KPK, Artis sinetron yang mulai gak laku, istri simpenan yang minta harta warisan, mantan jenderal yang kebelet ingin memenangi pertempuran “pilkada’.</p>
<p>B</p>
<p>ermodalkan minim dengan hasil maksi. Segelas air putih. Bunga ala kadarnya. Ruangan sempit aroma dupa. Semprot sana-sembur sini…lampu listrik yang remang-remang.</p>
<p>Maka, pahlawan industri kreatif Indonesia barulah sebatas: Bos Eddy, Jeng Asih, Ki Joko Bodo dan Mama Lauren…</p>
<p>Maaf, sepertinya kita baru sebatas itu.</p>
<p>Bagaimana pendapat Anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kopdang.com/2009/11/industri-kreatif-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
