“Pebisnis adalah orang-orang yang ibaratnya hanya berurusan dengan uang tapi mereka tidak dilatih untuk memperhatikan konten kreatif. Dan yang paling parah, mereka tidak dilatih untuk berkolaborasi, untuk bercampur dengan orang-orang yang berbeda denga mereka.”
Itulah yang dikatakan Richard Boyko, seoarang profesional periklanan yang telah malang melintang selama 30 tahun di Ogilvy& Mather, Leo Burnett Worldwide, dan TBWA\Chiat\Day. Saya ambil quote tersebut dari majalah BW. BusinessWeek minggu lalu menurunkan laporan utama sekolah-sekolah Desain Terbaik 2007. Ya, kalangan Generation X yang ditandai dengan babyboomers tahun 1965-1970an telah beranjak dewasa. Namun saat ini usia entry level tenaga kerja dipenuhi oleh anak-anak kelahiran 1982 dan setelahnya. Inilah Generation Y, yang kritis dan selalu berucap “Why?”… Generasi Y yang butuh eksistensi dan lebih personal akan lebih menyetujui inovasi dibandingkan efisiensi.
Dimanakah “inovasi” akan dihargai seperti layaknya “efisiensi” dalam ilmu manajemen? Yap! Sekolah desain, sekolah kreatif yang menyetujui dan memompa para anak didiknya untuk selalu berinovasi, tiada henti. Namun masalahnya adalah: “orang-orang kreatif di periklanan serta accoun manager tak pernah saling berkomunikasi.” Dunia terus berubah. Dahulu jaman berburu diawali dengan penemuan kapak dan peralatan purba. Dilanjutkan era berternak dan bercocok tanam. Lalu era perdagangan dengan ditandai penemuan banyak benua dan tanah baru. Lalu revolusi industri menggilas segalanya. Perubahan sosial masyarakat yang radikal. Lalu era perang dunia menjadikan penemuan teknologi mengalami percepatan yang tak terbayangkan sebelumnya. Lalu lahirlah era teknologi informasi dengan kemunculan internet yang jauh lebih dahsyat pengaruhnya. iPod, youtube, widget, google, blogging, twitter adalah istilah baru yang menguasai dunia anak muda saat ini. Celakanya, konsumen yang potensial namun kritis adalah anak muda, terutama dari kalangan Generation Y tadi.
Maka muncul era baru, era yang lebih dahsyat, yakni era INDUSTRI KREATIF.
Binatang apakah Industri kreatif ini?
Industri kreatif adalah sebuah iklim dunia bisnis yang potensi ekonomisnya berada di tangan para personal-personal yang kreatif, nyeni, inovatif dan dahulu belum/tidak diperhitungkan sebagai industri arus-utama (mainstream). Tak perlu memiliki karyawan yang banyak dan seabreg-abreg. Dunia kreatif bukanlah komoditas yang menyediakan kebutuhan primer manusia. Namun justru lebih cendrung sekunder dan tersier. Hanya saja karena gaya hidup dan perkembangan pengaruh arus kapitalisme maka industri kreatif ini malah hidup dan mendominasi. Misalnya: Film Maker sekelas Pixar, Disney, MiLes Production. Juga iPod buah tangan para anak buah Steve Jobs yang unggul karena desain yang ciamik. Juga lihatlah e-motion Piyu-Padi yang berbisnis menjadi produser Tompi dan bisnis layanan konten. Konon, katanya, dalam setahun Piyu dapat meraup omzet hingga 20 milyar rupiah.
Apa yang dibutuhkan Industri Kreatif bagi para Lulusan Sekolah Desain?
Sekolah desain menawarkan apa yang jarang ditawarkan oleh sekolah, universitas pada umumnya. Yakni kerjasama “magang” dengan perusahaan besar, atau setidaknya kerjasama penelitian yang telah terjalin dengan perusahaan besar tersebut. Perusahaan yang telah eksis sekelas P&G seringkali meminta mahasiswa desain di Amrik sana untuk mengomentari sebuah produk yang akan mereka luncurkan. Ide-ide anak mahasiswa diakui mereka memiliki kekuatan inovasi yang orisinil sekaligus dekat dengan perilaku dan keinginan “pasar”.
Selain itu sekolah desain akan melahirkan para manajer yang handal dalam manajerial sekaligus memiliki sense yang kuat dalam hal inovasi, selalu mencari yang unik dan tak pernah berhenti melakukannya. Percampuran antara ide kreatif dan ide bisnis. Produk masa kini ditopang oleh hasil kreativitas yang mumpuni. Vertu, Lexus, iPhone adalah beberapa brand yang sukses berkat ide kreatif orang-orang desain.
Maka, jangan ragu bilamana anak kita besok merengek minta disekolahkan ke sekolah Disc Jockey, Desain Grafis, Desain Produk maupun Komunikasi Visual, karena masa depan akan dipenuhi oleh orang sukses yang berlatar belakang ilmu seperti itu.
Sekolah Desain? Why Not!
Recent Comments